c
cerpen.web.id suara & bisikan sastra
Kembali
Ukuran Teks:
Legenda

Si Pitung, Jagoan Betawi

CR
Cerita Rakyat Nusantara

Diterbitkan 5 Juli 2026 • 2 Menit Baca

Pada masa penjajahan Belanda, di kampung Rawa Belong, Batavia, lahirlah seorang anak bernama Pitung. Ayahnya, Bang Piung, dan ibunya, Mpok Pinah, adalah petani sederhana. Sejak kecil, Pitung belajar mengaji dan silat kepada Haji Naipin, seorang guru yang saleh dan sakti.

Pitung tumbuh menjadi pemuda yang santun, taat beribadah, dan pandai bersilat. Tetapi hatinya gelisah melihat penderitaan rakyat di sekitarnya. Para tuan tanah yang bekerja sama dengan penjajah memungut pajak yang sangat tinggi. Petani yang tak mampu membayar diusir dari tanahnya dan disiksa oleh centeng-centeng bayaran.

Suatu hari, Pitung disuruh ayahnya menjual kambing ke pasar Tanah Abang. Dalam perjalanan pulang, uang hasil penjualan itu dirampok oleh sekawanan jagoan. Pitung marah, tetapi ia menahan diri. Ia pulang dan menceritakannya kepada Haji Naipin.

"Kekuatan yang kau miliki," kata Haji Naipin, "gunakanlah untuk membela yang lemah, bukan untuk kepentinganmu sendiri."

Sejak itu, Pitung membentuk kelompok bersama sahabat-sahabatnya, di antaranya Rais dan Ji'i. Mereka merampok rumah-rumah tuan tanah yang kejam dan membagikan hasilnya kepada rakyat miskin. Pitung tak pernah menyakiti orang yang tak bersalah, dan tak pernah mengambil sedikit pun untuk dirinya sendiri.

Rakyat mencintai Pitung. Mereka menyembunyikannya bila tentara Belanda datang mencari. Kabar tentang kesaktian Pitung menyebar. Konon ia kebal peluru dan bisa menghilang. Pemerintah kolonial sangat kesal. Seorang pejabat Belanda bernama Schout Heyne ditugaskan menangkapnya, dengan segala cara.

Karena tak bisa menangkap Pitung, Schout Heyne menangkap orang tua dan gurunya, lalu menyiksa mereka agar membocorkan rahasia kesaktian Pitung. Di bawah tekanan, rahasia itu akhirnya terbuka. Pitung juga dikhianati oleh seseorang yang dibayar oleh penjajah.

Suatu malam, Pitung dikepung di sebuah kuburan di Tanah Abang. Ia bertarung dengan gagah berani, tetapi kesaktiannya sudah dilemahkan. Si Pitung gugur tertembak.

Meski Pitung telah tiada, kisahnya hidup dalam hati rakyat Betawi. Ia dikenang dalam lagu, gambang kromong, lenong, dan film. Bagi rakyat kecil, Si Pitung adalah lambang keberanian melawan ketidakadilan, dan pengingat bahwa kekuatan sejati adalah kekuatan yang digunakan untuk membela sesama.

Keterangan Salinan

Salinan adaptasi bebas dalam bahasa Indonesia oleh Redaksi cerpen.web.id dari cerita rakyat “Si Pitung” (Betawi, Jakarta). Karya aslinya berstatus domain publik. Seluruh penghargaan atas cerita ini tetap milik para penutur aslinya.

CR

Tentang Penulis: Cerita Rakyat Nusantara

Kisah-kisah turun-temurun dari berbagai daerah di Indonesia, diceritakan ulang oleh redaksi.

Lihat Semua Karya Cerita Rakyat Nusantara →

Tanggapan Pembaca (0)

Cerpen Lain di Legenda

Joko Kendil
Legenda 2 Menit Baca

Joko Kendil

Di sebuah desa, hiduplah seorang janda miskin bernama Mbok Rondo. Ia sangat mendambakan seorang anak. Setelah bertahun-tahun berdoa, ia akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki. Tetapi bayi itu berb...

Talaga Warna
Legenda 4 Menit Baca

Talaga Warna

Zaman dahulu, ada sebuah kerajaan di Jawa Barat. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja. Prabu, begitulah orang memanggilnya. Ia adalah raja yang baik dan bijaksana. Tak heran, kalau negeri itu makmur...