Siang yang cerah di musim dingin. Salju berkilau diterpa matahari. Nadenka, seorang gadis muda, berdiri bersamaku di puncak sebuah bukit yang tinggi. Pipinya memerah, dan bulu matanya berembun oleh napasnya sendiri. Di kaki kami terbentang lereng panjang yang licin, dan di sampingku ada kereta luncur kecil beralas kain merah.
"Mari kita meluncur, Nadezhda Petrovna!" ajakku. "Sekali saja! Aku jamin kita akan selamat."
Tetapi Nadenka takut. Lereng itu tampak seperti jurang yang dalam dan mengerikan. Ia gemetar dan pucat ketika memandang ke bawah. Tetapi akhirnya, setelah kubujuk lama, ia duduk di kereta luncur dengan wajah pucat. Aku duduk di belakangnya, memeluknya, dan kami melesat turun.
Kereta luncur melaju seperti peluru. Angin menderu di telinga kami, menampar wajah kami, dan seolah ingin merenggut kepala kami. Napas kami tersekat. Seolah-olah setan sendiri yang mencengkeram kami dengan cakarnya dan menyeret kami ke neraka sambil meraung.
Pada saat kami melesat paling kencang, aku berbisik pelan, "Aku mencintaimu, Nadya."
Kereta luncur perlahan melambat, dan kami berhenti di kaki bukit. Nadenka turun dengan napas tersengal. Ia menatap wajahku dengan pandangan yang aneh. Apakah ia benar-benar mendengar kata-kata itu? Atau hanya suara angin? Aku berdiri di sampingnya, merokok, dan memeriksa sarung tanganku dengan wajah biasa-biasa saja.
Ia menggandeng lenganku, dan kami berjalan lama di sekitar bukit. Ia tampak gelisah. Pertanyaan itu jelas mengganggunya. Apakah kata-kata itu diucapkan, atau tidak? Ya atau tidak? Ini soal harga diri, soal kehormatan, soal hidup dan kebahagiaan.
"Bagaimana kalau kita meluncur lagi?" katanya akhirnya, dengan wajah yang tak mau menatapku.
Kami naik lagi ke puncak. Ia duduk lagi di kereta luncur, pucat dan gemetar. Kami meluncur lagi ke bawah, ke jurang yang mengerikan itu, dan lagi-lagi angin menderu. Pada saat paling kencang, aku berbisik lagi, "Aku mencintaimu, Nadya."
Di kaki bukit, ia menatapku dengan saksama. Tetapi aku tetap tenang. Ia tak bisa mengetahuinya.
Esok harinya, ia mengirimiku secarik kertas: "Kalau hari ini kau ke bukit, jemputlah aku." Sejak itu kami pergi ke bukit setiap hari. Setiap kali meluncur, aku membisikkan kata-kata yang sama. Dan setiap kali, ia tak bisa memastikan siapa yang mengucapkannya: aku, atau angin. Lama-lama ia jatuh cinta pada kata-kata itu seperti orang yang kecanduan anggur.
Suatu hari ia bahkan berani meluncur sendirian, hanya untuk mendengar apakah angin akan membisikkan kata-kata itu. Aku mendengarnya menjerit ketakutan dan melihatnya jatuh di salju di kaki bukit, lalu duduk lama sekali dengan wajah bingung.
Musim semi datang, dan bukit itu mencair. Tak lama kemudian aku pindah ke Petersburg untuk selamanya. Pada malam sebelum aku pergi, aku bersembunyi di balik pagar kebun rumahnya. Aku melihat Nadenka keluar ke beranda, menatap langit dengan sedih. Angin musim semi bertiup. Aku berbisik pelan, "Aku mencintaimu, Nadya!"
Wajahnya berseri-seri. Ia merentangkan tangannya ke arah angin, dengan wajah yang begitu bahagia.
Kini Nadenka sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Ia sudah lupa bagaimana dulu kami meluncur dari bukit. Tetapi baginya, kata-kata "Aku mencintaimu, Nadya" yang dibawa angin itu adalah kenangan terindah dalam hidupnya. Dan aku, sekarang ketika sudah tua, tak mengerti mengapa aku mengucapkan kata-kata itu. Mengapa aku bercanda.