Putriku yang berumur lima tahun, Mini, tak bisa diam barang semenit pun. Ia terus berceloteh sejak bangun tidur sampai tertidur lagi. Ibunya sering kesal dan menyuruhnya diam, tetapi aku tak sanggup. Mini yang diam tampak tidak wajar.
Suatu pagi, ketika aku sedang menulis bab ketujuh belas novelku, Mini berlari ke jendela dan berteriak, "Kabuliwala! Kabuliwala!"
Di jalan di bawah, berjalan seorang pedagang dari Kabul, Afganistan. Tubuhnya tinggi, pakaiannya longgar dan kotor, dengan sorban di kepala dan karung di punggung. Ia membawa kotak-kotak berisi kismis dan anggur kering.
Mendengar panggilan itu, lelaki itu menoleh dan berjalan ke rumah kami. Mini langsung panik dan berlari bersembunyi di dalam. Ia yakin karung di punggung Kabuliwala itu berisi anak-anak kecil yang ia culik. Aku merasa harus membeli sesuatu darinya karena sudah dipanggil. Aku memanggil Mini keluar untuk menunjukkan bahwa lelaki itu tak berbahaya. Kabuliwala memberinya kismis dan kacang, tetapi Mini menempel erat di lututku.
Beberapa hari kemudian, aku terkejut melihat Mini duduk di bangku dekat pintu, tertawa-tawa dan mengobrol dengan Kabuliwala yang duduk di kakinya. Selama lima tahun hidupnya, Mini belum pernah menemukan pendengar yang sesabar itu, kecuali ayahnya. Namanya Rahmun.
Mereka menjadi sahabat. Setiap hari Rahmun datang, dan mereka punya lelucon sendiri. "Mini kecil, kapan kau akan pergi ke rumah mertuamu?" goda Rahmun. Di Bengal, gadis-gadis diajari sejak kecil tentang "rumah mertua", tetapi kami orang yang modern dan tak membicarakannya kepada Mini. Maka Mini balik bertanya, "Kau sendiri, kapan pergi ke rumah mertuamu?"
Rahmun mengacungkan kepalan tangannya yang besar kepada mertua khayalan itu. "Aku akan menghajar mertuaku!" Mini tertawa terpingkal-pingkal membayangkan nasib si mertua malang itu.
Setiap tahun di pertengahan musim dingin, Rahmun pulang ke negerinya. Sebelum pergi, ia sibuk menagih utang dari rumah ke rumah, tetapi ia selalu menyempatkan diri mengunjungi Mini.
Suatu pagi, ketika aku sedang memeriksa naskah, terdengar keributan di jalan. Rahmun digiring dua polisi dengan tangan diborgol. Bajunya berlumuran darah. Seorang pembeli berutang padanya untuk selembar syal, lalu menyangkal utang itu. Dalam pertengkaran, Rahmun menikam orang itu.
Mini berlari keluar dan berseru, "Kabuliwala! Kabuliwala!" Wajah Rahmun berseri-seri. Ia tak membawa karungnya hari itu. "Kau mau ke rumah mertuamu?" tanya Mini. Rahmun tertawa. "Ya, ke sanalah aku pergi," katanya. Lalu ia mengacungkan tangannya yang diborgol. "Aku ingin menghajar mertuaku, tapi tanganku diikat!" Ia dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun.
Waktu berlalu, dan kami melupakan Rahmun. Mini tumbuh besar dan berteman dengan gadis-gadis sebayanya. Ia bahkan jarang lagi datang ke ruang kerja ayahnya.
Bertahun-tahun kemudian, tibalah hari pernikahan Mini. Rumah kami ramai sejak subuh. Pada hari yang sibuk itu, seseorang masuk ke ruang kerjaku dan memberi salam. Itu Rahmun, baru dibebaskan dari penjara. Ia tampak lebih kurus, tanpa rambut panjangnya dan tanpa semangatnya yang dulu.
"Hari ini kami sibuk," kataku agak dingin. "Datanglah lain kali." Rahmun berbalik untuk pergi, lalu ragu-ragu. "Bolehkah aku bertemu Mini sebentar?" Ia mengira Mini masih gadis kecil yang dulu, yang akan berlari menyambutnya sambil berseru "Kabuliwala!" Ia bahkan membawa sekotak kismis untuknya, yang ia dapatkan dengan susah payah dari seorang kawan senegerinya.
"Ada pesta di rumah," kataku. "Kau tak bisa menemui siapa pun hari ini."
Wajahnya murung. Ia menatapku sejenak, lalu berkata, "Tolong berikan kismis ini untuknya." Ketika aku hendak membayarnya, ia menahan tanganku. "Tuan baik sekali, dan aku tak akan melupakannya. Jangan beri aku uang. Aku juga punya seorang anak perempuan di rumah, sebesar Mini dulu. Aku datang ke sini dan memberi manisan kepada Mini karena teringat anakku. Aku bukan datang untuk berdagang."
Ia merogoh jubahnya yang longgar dan mengeluarkan selembar kertas kecil yang kotor. Dengan hati-hati ia membuka lipatannya dan meletakkannya di mejaku. Di kertas itu ada cap telapak tangan kecil. Bukan foto, bukan lukisan. Hanya bekas telapak tangan yang dicelup arang dan ditempelkan pada kertas. Setiap tahun ketika datang berdagang di Kolkata, Rahmun menyimpan kenang-kenangan putri kecilnya itu di dadanya.
Mataku berkaca-kaca. Aku lupa bahwa ia hanyalah penjual kismis dari Kabul, sedangkan aku... tidak, kami sama. Ia juga seorang ayah.
Aku memanggil Mini dari ruang dalam. Ia datang dengan pakaian pengantin dan tanda merah di dahinya, tersipu malu. Rahmun terkejut melihatnya. Ia tak bisa lagi menggoda seperti dulu. Akhirnya ia tersenyum dan berkata, "Mini kecil, apakah kau akan pergi ke rumah mertuamu?"
Mini kini mengerti arti "rumah mertua". Ia tak bisa menjawab seperti dulu. Wajahnya memerah, dan ia menunduk. Aku teringat hari pertama Kabuliwala dan Mini bertemu, dan hatiku terasa sedih.
Setelah Mini pergi, Rahmun menghela napas panjang dan duduk di lantai. Ia tiba-tiba sadar bahwa anaknya sendiri pun pasti sudah sebesar ini, dan ia harus berkenalan lagi dengannya dari awal. Ia tak akan menemukan anaknya seperti ketika ia meninggalkannya.
Aku mengambil selembar uang dan memberikannya kepada Rahmun. "Pulanglah ke negerimu, kepada putrimu, Rahmun. Semoga pertemuan kalian membawa berkah bagi pernikahan anakku."
Karena pemberian itu, aku terpaksa memotong anggaran pesta. Tak ada lampu listrik yang kupasang, dan tak ada orkes militer yang kusewa. Para perempuan di rumah sangat kecewa. Tetapi bagiku, pesta pernikahan itu menjadi yang paling terang, karena di sebuah negeri yang jauh, seorang ayah yang lama terpisah akan bertemu kembali dengan putri tunggalnya.