Pada suatu senja, seorang pelayan rendahan berteduh dari hujan di bawah Gerbang Rashomon. Tak ada orang lain di bawah gerbang yang besar itu. Hanya seekor jangkrik yang hinggap di sebuah tiang merah besar yang catnya sudah mengelupas.
Beberapa tahun terakhir, Kyoto dilanda bencana demi bencana: gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan kelaparan. Kota itu hancur. Orang-orang memecah patung-patung Buddha dan menjual kayunya sebagai kayu bakar. Tak ada yang mau memperbaiki Gerbang Rashomon. Rubah dan pencuri bersarang di sana. Bahkan orang-orang mulai membuang mayat-mayat yang tak dikenal ke loteng gerbang itu. Setelah matahari terbenam, tak ada yang berani mendekatinya.
Beberapa hari sebelumnya, pelayan itu dipecat oleh majikannya. Ia tak punya tempat tujuan. Ia duduk di anak tangga gerbang, memandangi hujan, dan memikirkan nasibnya. Ia bisa mati kelaparan, atau ia bisa menjadi pencuri. Ia tahu ia harus memilih menjadi pencuri untuk bertahan hidup, tetapi ia tak punya keberanian untuk mengakuinya.
Hari makin gelap dan dingin. Ia memutuskan naik ke loteng gerbang untuk bermalam. Di tangga menuju loteng, ia melihat cahaya samar di atas. Seseorang ada di sana, menyalakan api di tempat yang dipenuhi mayat. Ia mengendap-endap naik.
Di loteng itu, mayat-mayat berserakan. Bau busuk menusuk hidung. Di antara mayat-mayat itu, ia melihat seorang nenek tua yang kurus, berpakaian cokelat, memegang obor dari kayu pinus. Nenek itu sedang berjongkok di samping mayat seorang perempuan berambut panjang. Dengan tangannya yang kurus seperti monyet, nenek itu mencabuti rambut mayat perempuan itu satu per satu.
Pelayan itu merasa ngeri, lalu marah. Kebencian terhadap segala kejahatan membakar dirinya. Pada saat itu, bila ada yang bertanya apakah ia lebih memilih mati kelaparan atau menjadi pencuri, ia pasti akan memilih mati kelaparan tanpa ragu.
Ia melompat ke loteng dan mencengkeram nenek itu. "Apa yang kau lakukan?" teriaknya sambil menghunus pedangnya.
Nenek itu gemetar ketakutan. "Aku... aku mencabuti rambut ini," katanya terbata-bata, "untuk membuat rambut palsu."
Jawaban yang begitu biasa membuat pelayan itu kecewa. Nenek itu melanjutkan dengan suara serak, "Memang mencabut rambut mayat itu perbuatan jahat. Tapi perempuan ini, semasa hidupnya, juga berbuat jahat. Ia memotong-motong ular, mengeringkannya, dan menjualnya kepada para pengawal istana sebagai ikan kering. Kalau ia tak mati karena wabah, ia pasti masih melakukannya. Ia melakukannya karena kalau tidak, ia akan mati kelaparan. Aku tak menganggapnya jahat. Dan aku mencabut rambutnya juga karena kalau tidak, aku akan mati kelaparan. Ia pasti mengerti, dan memaafkanku."
Pelayan itu mendengarkan dengan dingin. Sebuah keberanian baru tumbuh di dalam hatinya, keberanian yang tadi tak ia miliki di bawah gerbang. Keberanian yang sama sekali berlawanan dengan keberanian yang ia rasakan ketika menangkap nenek itu.
"Begitukah?" katanya dengan senyum mengejek. "Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku merampasmu. Aku juga akan mati kelaparan kalau tidak melakukannya."
Ia merenggut pakaian nenek itu dengan kasar, menendangnya hingga terjatuh di atas mayat-mayat, lalu berlari menuruni tangga dan menghilang ke dalam kegelapan malam.
Beberapa saat kemudian, nenek itu bangkit dari tumpukan mayat. Dengan erangan, ia merangkak ke tepi tangga, diterangi sisa cahaya obornya. Rambutnya yang putih kusut terurai ke bawah. Ia memandang ke dasar gerbang. Di luar, yang ada hanyalah kegelapan malam yang pekat.
Tak ada yang tahu ke mana pelayan itu pergi.