IndoCerpen Sites

Kids

Dongeng untuk anak-anak, fantasy, khayalan

    (Page 1 of 4)   
    « Prev
      
    1
      2  3  4  Next »

    Kenapa Mesti Oom Jali

    Ben menaruh lagi gagang telepon. Perasaan gugupnya belum hilang. Ini luar biasa. Tak terbayang ia bisa bikin keputusan seperti ini: Menelpon polisi. Ia meraih kembali buku telepon yang tadi digunakannya untuk mencari nomor kantor polisi. Pintu boks ia buka, lalu mendekati kasir wartel. Ia taruh buku telepon di tempat semula.

    Hadiah Dari Ayah

    Sudah dua hari ini aku menjadi pendiam. Aku sering menyendiri dan melamun. Bahkan pernah, saat istirahat sekolah tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu. Monita yang duduk di sebelahku sampai merasa heran. "Sudahlah, Wi! Malu dilihat teman-teman," ujar Monita. Aku berusaha menahan tangisku.

    Pelajaran Berharga Dari Desa

    Liburan sekolah kali ini Ego beruntung sekali. Sudah lama ia ingin menikmati berlibur di desa kelahiran ayah ibunya. Tapi selalu ada saja halangan. Sekarang rupanya kesempatan itu datang juga.
    Beberapa hari lalu, paman Ego yang tinggal di desa berkunjung. Ketika ia akan pulang, liburan sekolah Ego sudah dimulai. Itu sebabnya Paman mengajak Ego berlibur ke desa. Tentu saja Ego tidak menolak. Ayah ibunya juga setuju.

    Adik Kecil, Ayo Mengompollah!

    Hari Minggu, Pin libur. Murid kelas V itu jadi malas keluar rumah dan terus membaca sambil tiduran. Ketika sedang asyik membaca, tangis adiknya mengusiknya.
    “Pin, adikmu menangis! Mama tanggung nih sedang masak, tolong berikan dot itu!” seru mamanya dari dapur. Pin jengkel, dengan raut cemberut ia menuju kamar adiknya.

    Siapa Risma Sebenarnya?

    Teng teng teng!
    Bel tanda masuk SDN I Sukasari berbunyi. Bu Titik, wali kelas VA masuk ke kelas. Di sampingnya ada seorang anak perempuan.
    “Anak-anak, ini Rismawati. Ia murid baru pindahan dari Surabaya. Nah, Risma, kamu duduk di sebelah Tia, ya!” Bu Tutik menunjuk kepadaku.

    Guci Ajaib Palsu

    Oben gembira diajak Indra ikut berlibur ke kampung orang tua Indra. Sudah lama ia ingin melihat kampung Indra di daerah pantai selatan. Sebab Indra selalu bercerita seru mengenai kampung Cijampang.
    Kenyataannya cerita Indra tidak berlebihan. Begitu tiba di kampung itu, Oben merasa takjub melihat pemandangan di depannya. Hamparan laut dengan pasir yang berwarna putih.

    Percayai Aku, Bunda…

    “Hampir sampai, nih!” Jingga menepuk bahu Galih yang dari tadi bengong.
    Galih menoleh sambil tersenyum, berusaha menyembunyikan kekagetannya.
    Tapi…
    ” Astaga!” Galih menepuk dahinya.
    “Kenapa, Lih?” Jingga heran.

    Tolong, Bebaskan Aku…

    Bel tanda pulang sekolah berbunyi. Teman-temanku berhamburan keluar kelas. Dengan langkah gontai alu pun meninggalkan kelas. Hari ini aku malas pulang ke rumah. Aku teringat omelan Mama tadi pagi. Mama marah karena aku kemarin membeli tas ransel trendi tanpa ijin Mama. Padahal aku membeli dengan uang tabunganku sendiri. Apalagi teman-temanku sudah banyak yang memakai tas ransel itu. Uh!

    Melacak Jejak

    Nigar kaget melihat kaver majalah Boo terbarunya robek. Terakhir kali ia melihat Igun yang membacanya. Segera ia menemui adiknya itu.
    “Igun, kenapa kamu robek majalah baru ini?” Nigar setengah berteriak.
    “Tidak sengaja. Tapi isinya masih bisa dibaca kan, Kak!” kilah Igun takut. 

    Birbal dan Punggawa yang tak jujur

    Punggawa Bondil terkenal licik. Namun tak seorang pun berani melaporkan kelicikannya itu kepada raja. Sebab, sulit sekali mencari buktinya. Pada suatu hari, Punggawa Bondil iseng menawari seorang lelaki miskin 5 koin emas. Asal, lelaki itu mau berendam di kolam kota, semalam suntuk. Karena butuh uang, lelaki miskin itu bersedia. Malam harinya ia mencebur ke kolam kota. Semalaman ia berendam di situ. Dua penjaga mengawasinya dari pinggir kolam. Mereka menjadi saksi bahwa lelaki itu tidak keluar dari kolam semalaman. 
    (Page 1 of 4)   
    « Prev
      
    1
      2  3  4  Next »