IndoCerpen Sites

ginanjar rahardi

iam the dark angel
(Page 2 of 12)   « Prev  1  
2
  3  4  5  Next »

 Articles by this Author

Jangan Tangisi Aku

Alya masih terbaring, memeluk boneka kesayangannya. Terbesit difikirannya untuk menengok keluar jendela. Ia berkata: "Seharusnya aku seperti mereka!" Ia menatap anak-anak seusianya pergi bersekolah. Sudah hampir setengah tahun Alya tidak masuk sekolah, saat itu ia masih duduk di Kelas 1 SD. Karna penyakitnya yang tak kunjung sembuh, menghambatnya untuk kembali bersekolah.

Hari ini Alya dan kedua orang tuanya pindah rumah ke kampung, tempat dimana kakek dan neneknya tinggal. Alya memulai suasana hidup yang berbeda di sana, ia mulai bersekolah kembali dan langsung duduk di Kelas 2 SD.
Selang 3 bulan, Alya merasa ada keganjalan di tengah-tengah keluarganya, suara tangisan, teriakan, piring yang berjatuhan. Semua itu sering kali ia dengar, orang tuanya sering sekali bertengkar, hingga ayahnya pergi meninggalkan Alya dan mamahnya.

Kisah Sebuah keluarga - Kompasiana

Kumis tebal, kain sarung. Tegar dan penuh semangat. Grapyak dan semedulur. Jadi pegawai karena pinter main bola setingkat kecamatan. Asap rokok selalu membumbung di dekatnya. Kalau sedang bekerja bisa lupa waktu. Membersihkan rumput di sekeliling rumah, membuat atap kamar mandi, membuat kandang ayam, dan lain-lain. Tidak pernah bermalas-malasan. Paling-paling kalau masuk angin dan batuk-batuk. Minta dibuatkan wedang asem merah atau wedang jahe. Meringkuk di amben sambil kerodong sarung. Itulah bapakku.

Kisah Sahabat Jadi Cinta

Aku bergegas menyeberangi pagar kampus. Hari ini batas waktu terakhir pembayaran uang kuliah. Aku mengumpat dalam hati, kenapa pelupaku muncul untuk hal sepenting ini?
Beberapa sapaan teman-teman kujawab sambil lalu. Dari jauh aku melihat loket pembayaran hampir ditutup. Last minute, aku berhasil sampai tepat waktu.
Saat aku berbalik, aku hampir menabrak cowok yang tengah memungut kertas-kertas dan peralatan tulisnya yang berantakan di lantai.
Malam yang sungguh indah. Banyak bintang bertaburan di langit, angin yang segar, langit yang indah sungguh melengkapi malam ini. Tapi ada yang terasa hilang, sungguh sangat terasa. Yaitu kedua orang tua ku, mereka tak berada disisi ku. Mereka terlalu sibuk dengan ego mereka, mereka tak pernah memperhatikan aku dan Kakak. Mereka selalu bertengkar setiap hari, entah apa yang mereka pertengkarkan. Kakak selalu melarangku bertanya apa yang selalu di pertengkarkan mereaka. Kakak selalu berkata,

Berubah menjadi Baik

Pada suatu hari, ketika seorang petapa sedang meditasi di biara, tiba-tiba seorang perampok masuk kedalam biaranya. Perampok mengancam petapa memakai pisau yang tajam dan mengkilat mengancam petapa sambil menghardik.

“Cepat keluarkan semua uang yang ada dilemari ini, kalau tidak engkau akan kubunuh!” hardik perampok.

“Uangnya ada di laci, di lemari tidak ada uang, engkau sendiri yang ambil, tetapi tolong tinggalkan sedikit karena beras saya sudah habis, jika engkau tidak tinggalkan sedikit besok saya akan kelaparan!” kata si petapa.

Petani dan Cangkulnya

Ada seorang petani dengan cangkulnya membajak sawah setiap hari. Selama bertahun-tahun waktunya dihabiskan dengan mencangkul tanah. Dia melakukan pekerjaannya dengan rajin sehingga memperoleh hasil cukup bagus.

Pada suatu hari ada seorang kultivator datang ke rumahnya meminta derma. Kultivator ini kelihatan hidup dengan bebas dan bahagia, maka didalam hati petani ini timbul niat untuk berkultivasi.

Kisah Nyata: Akibat dari Prasangka Negatif

Seorang janda miskin Siu Lan punya anak berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan membuat Lie Mei harus membantu ibunya berjual kue di pasar, karena miskin Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu musim dingin saat selesai bikin kue, Siu Lan melihat keranjang kuenya sudah rusak dan Siu Lan berpesan pada Lie Mei untuk nunggu dirumah karena ia akan membeli keranjang baru.

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Stop at The Top

Para malaikat sedang sibuk mengadakan rapat untuk menentukan cara-cara mati yang baru untuk daftar manusia yang akan mati bulan ini. Tiba-tiba dikejutkan dengan masuknya salah satu asisten pribadi malaikat pencabut nyawa. “Interupsi…interupsi… Yang mulia”, teriak sang asisten dengan terengah-engah. “Ada apa asisten, kenapa engkau menganggu rapat kami”, tegur sang malaikat pemimpin rapat merasa terganggu.

Aku sangat mendambakan cintamu

Pada suatu hari yang gelap di musim gugur 1942, udara dingin, sangat dingin. Hari itu tak ada bedanya dengan hari-hari lain di kamp konsentrasi Nazi. Aku berdiri menggigil dalam pakaian compang-camping yang tipis, masih tak percaya bahwa mimpi buruk ini benar-benar terjadi.