Lelaki itu masih menatapi rumah di seberang jalan itu. Pandangannya nanar, seolah mengingat-ingat kejadian yang dulu. Saat dia bersama anak pemilik rumah tersebut saling jatuh cinta.

Mereka saling menyayangi dan mencintai, terbukti banyaknya janji dan angan yang mereka ungkapkan.

“Aku akan menyayangimu, sampai kapanpun. Karena aku cinta padamu.”

Sebuah rengkuhan menggelayut dileher lelaki itu. Pelukan dari tangan putih mulus kekasihnya, anak pemilik rumah seberang.

Lelaki itu hanya bisa mengangguk pelan. Dia ragu apakah ini semua bisa berlanjut kemudian. Sementara di dalam rumah lelaki itu, orang tuanya telah berkali-kali mengingatkan agar ia tak lagi menjalin hubungan cinta dengan anak pemilik rumah seberang.

“Pokoknya, kalau kamu masih menjalin hubungan dengan dia. Kami tidak akan merestui kalian!” suara ancaman itu masih terngiang-ngiang di ujung telinganya.

Namun saat bersama gadis itu, lelaki bahagia dan syahdu mesra. Seolah lupa pada ancaman itu.

=======

Suara penyeru-penyeru mulai terdengar mengitari dua insan berlainan jenis. Mereka hanya bisa pasrah, tak bergeming dari canda dan tawa yang masih berdosa.

Belaian..

Ciuman..

Pelukan…

Akhirnya menyatukan syetan dalam diri mereka berdua.

Ruang gelap jadi saksi.

Suara-suara Tsunami kala itu seolah kalah dengan dengusan dan deru nafas dua insan lain jenis yang sedang berpacu.

Mereka telah berzina. Mereka telah berbuat yang tak seharusnya mereka lakukan, mereka saling jatuh cinta.

Lelaki itu dan gadis anak pemilik rumah seberang. Mereka lunglai terbakar api. Gosong, menghitam meninggalkan noda jelas di pelupuk kenangan.

“Sudah berapa kali engkau lakukan hal seperti ini pada gadis-gadis selain aku?”

Seolah tak percaya, gadis anak pemilik rumah seberang menginterogasi lelaki itu.

“Hanya kau yang pertama…”

“Benarkah?”

Lelaki itu hanya bisa mengangguk, meyakinkan.

=======

Lelaki itu masih menatapi rumah di seberang jalan itu. Pandangannya nanar, seolah mengingat-ingat kejadian yang dulu.

Terakhir bertemu gadis anak pemilik rumah seberang diperjumpaan yang singkat sore itu.

“Masihkah kita pertahankan hubungan seperti ini. Hubungan diantara jeruji-jeruji yang keluargamu tancapkan diantara kau dan aku. Adilkah ini bagiku?”

Sebuah tanya terucap dari mulut si gadis anak pemilik rumah seberang.

“Kau sepertinya tak pernah mau peduli pada diriku. Aku wanita yang tak kuasa untuk mematahkan besi-besi itu. Bagiku, aku percaya padamu. Namun tak bisa selama mengandalkan kemampuanmu. Sebab kurasa kau pun pasti tak mampu mematahkannya. Kau lemah!

Kau juga pasti akan mengalah!

Lebih baik kita akhiri semua ini saja. Biarlah aku mengalah untuk semua ini.”

Gadis anak pemilik rumah seberang pun bercucuran airmata. Tangis kebebasan dari belenggu jeruji besi yang ditancapkan keluarga lelaki itu.

Lelaki itu pun tak kuasa membendung airmatanya kini. Berdua mereka berpeluk untuk akhiri semua ini.

======

Pandangannya kini terpaku pada serombongan handai taulan dan tamu-tamu keluarga pemilik rumah seberang. Sebuah pesta pernikahan akan segera berlangsung hari itu.

Gadis anak pemilik rumah seberang, kekasih lelaki itu, yang akan menikah. Mereka dijodohkan oleh orang tua masing-masing. Jodohnya seorang laki-laki sukses. Kerjanya saja di luar negeri.

Sebutir air menetes diantara pipinya yang hitam.

Lelaki itu menangis.

Lelaki itu berduka.

Dia harus kehilangan cinta yang seharusnya jadi miliknya.

Suara-suara dari pengeras suara menusuk ke telinga. Semakin menghujam sudah, derita yang sedang melanda lelaki itu.

Lelaki itu menggapai-gapai tangannya keluar jendela. Mencoba mencari bayang-bayang gadis anak pemilik rumah seberang.

“Dimana engkau sayang? Mengapa kau tega melakukan ini padaku?” suara batin lelaki itu mengerang.

=======

Lelaki itu masih menatapi rumah di seberang jalan itu. Pandangannya nanar, seolah mengingat-ingat kejadian yang dulu.

Perlahan merebahkan tubuhnya yang layu. Menatap langit-langit kamarnya.

Lelaki itu pelan menutup kedua bola matanya. Mencari ketenangan jiwa dalam hening suasana hatinya.  

“Selamat tinggal sayang. Selamat tinggal semuanya”

“Ampuni aku Tuhan. Aku tak sanggup menahan semua ini sendiri.”

Dan….

Kata pun tinggal diam.

Lelaki itu kini telah di awang-awang menggapai bayang-bayang gadis anak pemilik rumah seberang.

 

Purwokerto, 4 Mei 2006

*untuk para lelaki yang patah hati. Jangan kalah! Jemput bidadari yang lain!

http://dwiswandi.multiply.com