Published on 03/10/2008
Ben menaruh lagi gagang telepon.
Perasaan gugupnya belum hilang. Ini luar biasa. Tak terbayang ia bisa
bikin keputusan seperti ini: Menelpon polisi. Ia meraih kembali buku
telepon yang tadi digunakannya untuk mencari nomor kantor polisi. Pintu
boks ia buka, lalu mendekati kasir wartel. Ia taruh buku telepon di
tempat semula.
Kenapa Mesti Oom Jali
Ben menaruh lagi gagang telepon.
Perasaan gugupnya belum hilang. Ini luar biasa. Tak terbayang ia bisa
bikin keputusan seperti ini: Menelpon polisi. Ia meraih kembali buku
telepon yang tadi digunakannya untuk mencari nomor kantor polisi. Pintu
boks ia buka, lalu mendekati kasir wartel. Ia taruh buku telepon di
tempat semula.
"Berapa, Mbak?" tanyanya pada kasir wartel.
Mbak itu menyerahkan secarik kertas. Ben langsung membayar sesuai angkat yang tertera di kertas itu.
Tadi
sepulang sekolah Ben menumpang mobil Oom Jali lagi. Sering terjadi
kebetulan-kebetulan seperti itu. Pada saat berpanas-panas di halte
depan sekolah yang ramai, kebetulan Oom Jali lewat.
Oom
Jali adalah tetangga depan rumah Ben. Orangnya masih muda. Belum
menikah. Baik hatinya. Semua warga gang pasti bilang begitu. Dia orang
muda yang sukses. Rumahnya paling bagus di gang itu. Ben sering main ke
sana. Mobilnya bagus-bagus. Garasinya yang cukup besar dapat menampung
tiga mobil. Kadang dalam sebulan ada saja satu dari mobil-mobi itu yang
ditukar dengan yang lain. Kata Oom Jali, kerjanya bisnis mobil. Jika
ada yang terjual, dibeli lagi satu.
Sudah
pasti Oom Jali banyak uang. Ben sering ditraktir. Kadang sore-sore ia
diajak jalan-jalan ke pantai atau ke mana saja. Dan ia pasti dibelikan
sesuatu. Pernah juga Ben diajak ke rental VCD. Disuruh memilih sendiri
film anak-anak kesukaannya. Kadang VCD itu diputar di rumah Oom Jali.
Mereka nonton bersama. 
Tadi
di depan sekolah, mobil yang berhenti di depan Ben adalah kijang warna
biru. Begitu kacanya yang gelap diturunkan, dari belakang setir
terlihat Oom Jali memberi isyarat supaya Ben naik. Ben belum pernah
melihat mobil ini sebelumnya di rumah Oom Jali.
"Mobil baru ya, Oom?" tanya Ben saat mobil mulai berjalan.
Oom Jali membenarkan. Katanya baru saja diambil dari bengkel. "Tercium, kan, bau catnya?"
Menurut Oom Ben, setiap mobil yang baru dibeli harus diservis. Agar bisa dijual lagi dengan harga yang lebih mahal.
"Wah, kalau begitu kantong Oom lagi tebal, nih," goda Ben.
Oom
Jali tertawa. "Ah, kamu ini. Oke, deh. Nanti sore Oom traktir. Jangan
ke mana-mana, ya! Nah, kamu turun di pertigaan Gang Kopi saja, ya. Oom
masih mau ke bengkel," kata Oom Jali lagi.
"Ada yang diservis lagi, Oom?" tanya Ben.
"Iya.
Jok belakang ini. Bekas terbakar rokok kata pemilik yang dulu. Semua
harus dibuat bagus, agar mudah dijual," terang Oom Jali.
Ben
melongok ke jok belakang. Benar. Ada bekas terbakar selebar telapak
tangan. Bena kembali menoleh ke depan. Mobil terus melaju. Sebentar
lagi mereka tiba di Gang Kopi. Tapi…Eh!
Tiba-tiba
ingatan Ben terketuk. Ia tengok lagi ke belakang. Oya! Jok belakang
mobil itu, kok persis jok belakang mobil Fadel dulu? Ben kini menebar
pandang ke seluruh kabin. Ya! Interiornya berwarna coklat muda. Nah!
Pada dashboard di depannya, tatapan Ben terhenti. Di situ ada pula
bekas tempelan striker.
Iya!
Pada liburan lalu, Ben dan Fadel menempelkan striker monster game di
dashboard. Stiker yang mereka dapat dari dalam kemasan makanan ringan.
Setelah
turun di pertigaan Gang Kopi, Ben bingung bukan main. "Tapi, mobil itu
bernomor polisi Jakarta. Ah, pasti sudah diganti! Ini mobil Pakde yang
dicuri empat minggu lalu!" Ben berteriak dalam hati. Tangannya
mengepal.
Tapi
Oom Jali? Apakah mungkin? Rasanya semua warga di gang tempat tinggalnya
akan bilang Ben gila kalau menuduh Oom Jali pencuri mobil. Oom Jali
sudah dua tahun tinggal di sana. Semua mengenalnya sebagai orang
baik-baik.
Ada
dua menit Ben mematung di trotoar. Tapi Ben tidak bisa membantah
hatinya. Ia merasa benar-benar baru saja duduk lagi di jok mobil Fadel.
Seperti liburan lalu. Dan kemudian… Ben tak bisa menahan kakinya
melangkah menuju wartel terdekat. Untuk menelepon polisi.
Jika
Ben tidak keliru, berarti mobil Pakde bisa kembali. Jika keliru, ya,
kan, bisa meminta maaf pada Oom Jali nanti. Dan, toh di telepon ia bisa
sembunyikan identitas. Bisa bikin nama dan alamat palsu.
Empat
jam setelah sampai di rumah, ben lebih banyak beraa di ruang tamu.
lewat kaca jendela ia leluasa mengawasi rumah Oo Jali di seberang gang.
Pukul empat lewat Oom Jali pulang. Kijang biru itu berhenti di depan
pagar. Oom Jali turun untuk membukakan pintu dan garasi.
Ben jadi deg-degan. Apakah polisi akan datang?
Belum
lagi Oom Jali kembali ke dalam mobil, dua mobil kijang lain berhenti di
depan rumahnya. Melihat ada enam lelaki turun bergegas dari kedua mobil
itu, dada Ben makin berdegup. Meskipun mereka tak berpakaian polisi,
dari rambut dan penampilan mereka Ben bisa menebak bahwa mereka adalah
polisi.
Sesore
ini gang lagi sepi. Sepertinya selain Ben tak seorang pun warga tahu
apa yang sedang terjadi di depan sana. Ia kemudian merapatkan gorden
jendela. Ia jadi ingin melihat Oom Jali dibawa pergi.
Ben
tentu tidak tahu apakah Oom Jali dibawa polisi. Sampai hari gelap, ia
memang tidak disamperi Oom Jali. Padahal kalau ia janji tidak pernah
lupa.
Sepuluh
hari sejak itu, rumah Oom Jali bagai tak nerpenghuni. Dan sorenya Fadel
interlokal dari lampung. Ia dengan gembira mengabarkan tentang mobil
mereka yang sudah ketemu. Ketemu di Jakarta. Sekarang Pakde ke Jakarta
melihatnya. Ternyata ketika ditinggal Pak Ujang, sopir Pakde, di depan
sebuah toko, mobil itu dicuri gerombolan pencuri dari Jakarta. Kata
Pakde, ada selusin lebih mobil curian yang disita polisi bersama
mobilnya. Penjahatnya lebih hebat dari polisi. Bertahun-tahun mereka
tak pernah tertangkap.
"Terus mobilmu itu sekarang gimana?" tanya Ben.
"Belum bisa dibawa pulang. Dan kata Ayah catnya sudah diganti oleh pencuri dengan warna biru," jawab Fadel.
"Oya?"
"Iya. Mau dijual kali. Dan platnya diganti sama nomor polisi Jakarta," tambah Fadel.
"Dan
jok belakang yang kebakar rokok Pak Ujang yang ketiduran sambil merokok
wakti di pantai itu diganti baru juga, kan?" pancing Ben.
"Di telepon polisi memang bilang begitu pada Ayah. Kok tahu, Ben?" tanya Fadel.
"Interlokalmua terlambat, Del. Pakde sudah sampai duluan di sini," bohong Ben,
"Ayah sudah tiba? Iya, deh. Sudah, ya. Aku cuma ngabarin itu saja," kata Fadel mengakhiri.
Ben
merasa lega. Takkan ia ceritakan pada siapa pun tentang semua ini. Dan
ketika kemudian banyak warga yang membicarakan Oom Jali, Ben tak ikut
menimpali. Tapi ia sesali, kenapa orang itu mesti adalah kenalan
baiknya. Kenapa mesti yang bernama Oom Jali.
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.