Published on 03/10/2008
Sudah dua hari ini aku menjadi
pendiam. Aku sering menyendiri dan melamun. Bahkan pernah, saat
istirahat sekolah tiba-tiba aku menangis tersedu-sedu. Monita yang
duduk di sebelahku sampai merasa heran. "Sudahlah, Wi! Malu dilihat
teman-teman," ujar Monita. Aku berusaha menahan tangisku.
Hadiah Dari Ayah

Sudah
dua hari ini aku menjadi pendiam. Aku sering menyendiri dan melamun.
Bahkan pernah, saat istirahat sekolah tiba-tiba aku menangis
tersedu-sedu. Monita yang duduk di sebelahku sampai merasa heran.
"Sudahlah, Wi! Malu dilihat teman-teman," ujar Monita. Aku berusaha
menahan tangisku.
Pulang
sekolah hari ini aku semakin gelisah. Biasanya kalau Sabtu begini aku
paling bersemangat. Selain besoknya libur, hari Sabtu selalu istimewa
bagiku. Sebab ayahku yang bekerja di luar kota pasti pulang. Aku
bertemu Ayah hanya pada hari Sabtu dan Minggu.
Tetapi hari Sabtu kali ini suasananya berbeda sekali.
"Makan dulu, Wi! Tenagamu kan banyak berkurang di sekolah," tegur Ibu. Aku hanya menggeleng.
"Masih kenyang, Bu."
Aku
masuk ke kamar dan merebahkan badan di tempat tidur. Pikirkanku
melayang. Yang membuatku sedih adalah Ayah berjanji akan menghadiahiku
boneka beruang besar kalau nilaiku tetap bagus. Namun, dua hari lalu
aku harus menerima nasib buruk. Rapor cawu II ku jeblok. Angka 5
tertera di barisan sejarah. Padahal di rapor sebelumnya aku menduduki
peringkat ke-3. Ayah belum tahu hasil raporku ini.
Menjelang
malam, terdengar ketukan di pintu. Ayah lalu masuk sambil menenteng
bungkusan yang sangat besar. Wajah Ayah berseri-seri. Tetapi aku justru
sembunyi di balik bantal. Aku tak berani memandang wajah Ayah yang
berbinar-binar itu.
"Dewi!"
sapa Ayah sambil duduk di pinggir tempat tidur. Aku tak berani
menjawab. Aku tahu Ayah pasti sangat marah. Kemudian, terdengar suara
Ibu yang juga ikut masuk ke kamarku.
"Dewi,
bangun sayang!" kata Ibu sambil menyentuh pundakku. "Masalah tidak akan
selesai kalau kamu hanya sembunyi di balik bantal."
Aku
akhirnya menggeser bantalku. Sambil tertunduk, aku duduk di sisi Ayah.
Dengan memberanikan diri, kupandang wajah Ayah yang tampak kecewa.
Hatiku pedih.
"Maafkan Dewi, Yah!" kataku pelan. "Dewi terlalu banyak main. Jangan marah ya, Yah!" Ayah menghela nafas.
"Ayah
tidak marah. Nilai rapormu, kan, laporan dari hasil kerjamu sendiri
selama ini. Rapor-mu yang sebelumnya, kan, bagus. Sayang kalau hasil
kerja kerasmu dulu itu jadi sia-sia," ujar Ayah sambil tersenyum ramah.
Aku terdiam.
Ayah berdiri lalu menyerahkan bungkusan yang tadi dibawanya.
"Boneka ini Ayah beli untukmu. Apapun hasil rapormu, terimalah!"
Aku menerima boneka itu dengan hati pedih.
Ketika
Ayah kembali ke luar kota, aku hanya bisa menatap mata bening beruang
yang memandangiku. "Beruang, duduklah di situ untuk melihatku belajar.
Kalau aku malas lagi, aku akan mengingatmu sebagai hadiah atas
kesalahanku."
Boneka
itu masih duduk di atas tempat tidurku. Aku bisa memandanginya setiap
saat. Kini boneka beruang itu menjadi peringatan ketika aku mulai malas
belajar. Pandangan matanya seperti memberiku peringatan.
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.