Siapa Risma Sebenarnya?
- By ginanjar rahardi
- Published 03/10/2008
- Kids
-
Rating:




Teng teng teng!
Bel tanda masuk SDN I Sukasari berbunyi. Bu Titik, wali kelas VA masuk ke kelas. Di sampingnya ada seorang anak perempuan.
“Anak-anak, ini Rismawati. Ia murid baru pindahan dari Surabaya. Nah, Risma, kamu duduk di sebelah Tia, ya!” Bu Tutik menunjuk kepadaku.
Ketika Risma sampai ke sebelahku, aku mengulurkan tangan. Dia pun membalas uluran tanganku sambil tersenyum ramah.
Pada saat istirahat, aku ngobrol dengan Risma. Cindi dan Lili yang duduk di depanku pun ikut bergabung.
“Oh ya Tia, nanti kita pulang sama-sama ya. Kamu mau beli majalah Bobo, kan? Aku juga. Kita sama-sama saja belinya,” kata Risma.
Aku terkejut sekali. Darimana dia tahu kalau nanti aku mau beli Bobo?
Teng teng teng…
Akhirnya bel pulang yang ditunggu-tunggu berdentang. Sesuai janji, aku dan Risma pulang bersama. Kami mampir di kios majalah dekat sekolah. Kami pulang berjalan kaki, sebab rumah Risma pun ternyata dekat sekolah.
“Tia, aku sudah sampai nih. Mampir ya ke rumahku,” kata Risma setelah kami agak lama berjalan. Dan … kembali aku terkejut. Ternyata rumah Risma adalah bekas rumah Fifi, sahabat karibku yang pindah ke Pontianak.
“Eh, lain kali saja deh. Sudah siang nih,” kataku terbata-bata.
“Oh ya, sampai lupa aku. Kalau nanti sore kamu les piano, jangan lupa bawa payung. Soalnya mau hujan. Sudah ya, aku masuk dulu.”
Sebelum aku membuka mulut, Risma sudah masuk ke rumahnya. Aku bertambah heran. Bagaimana dia tahu kalau aku akan les piano? Berbagai pertanyaan memenuhi benakku.
Keesokan paginya kuceritakan kejadian aneh itu pada Cindi dan Lili.
“Wah, canggih juga si Risma. Mungkin dia peramal, hehehe…” komentar Lili sambil terkekeh.
“Siapa yang peramal?” sambar Risma yang baru datang.
“Ya, kamu! Dari maka kamu tahu kalau kemarin aku mau beli Bobo? Dari mana kamu tahu kalau aku akan les piano?” tanyaku bertubi-tubi.
“Oh, itu. Begini ceritanya. Sebenarnya, Fifi sahabatmu itu, adalah sepupuku. Pamanku, ayah Fifi, bulan lalu harus pindah tugas ke Pontianak. Kebetulan papaku bertugas ke Jakarta. Karena tidak ada yang tinggal di rumah mereka, maka kami sekeluarga yang tinggal di rumah Fifi. Di suratnya padaku, Fifi banyak cerita tentang kamu, Tia,” Risma menjelaskan.
“Tapi, kamu kok juga tahu, kalau kemarin sore akan ada hujan?” tanya Lili.
“Kalau itu sih lain lagi. Malam sebelumnya aku menonton siaran berita. Katanya akan turun hujan,” Risma tertawa. Aku pun ikut tertawa geli.
“Oh, jadi itu sebabnya Risma tahu semuanya,” batinku.
Diambil dari Majalah
Teman Bermain dan Belajar.
Bel tanda masuk SDN I Sukasari berbunyi. Bu Titik, wali kelas VA masuk ke kelas. Di sampingnya ada seorang anak perempuan.
“Anak-anak, ini Rismawati. Ia murid baru pindahan dari Surabaya. Nah, Risma, kamu duduk di sebelah Tia, ya!” Bu Tutik menunjuk kepadaku.
Ketika Risma sampai ke sebelahku, aku mengulurkan tangan. Dia pun membalas uluran tanganku sambil tersenyum ramah.
Pada saat istirahat, aku ngobrol dengan Risma. Cindi dan Lili yang duduk di depanku pun ikut bergabung.
“Oh ya Tia, nanti kita pulang sama-sama ya. Kamu mau beli majalah Bobo, kan? Aku juga. Kita sama-sama saja belinya,” kata Risma.
Aku terkejut sekali. Darimana dia tahu kalau nanti aku mau beli Bobo?
Teng teng teng…
Akhirnya bel pulang yang ditunggu-tunggu berdentang. Sesuai janji, aku dan Risma pulang bersama. Kami mampir di kios majalah dekat sekolah. Kami pulang berjalan kaki, sebab rumah Risma pun ternyata dekat sekolah.
“Tia, aku sudah sampai nih. Mampir ya ke rumahku,” kata Risma setelah kami agak lama berjalan. Dan … kembali aku terkejut. Ternyata rumah Risma adalah bekas rumah Fifi, sahabat karibku yang pindah ke Pontianak.
“Eh, lain kali saja deh. Sudah siang nih,” kataku terbata-bata.
“Oh ya, sampai lupa aku. Kalau nanti sore kamu les piano, jangan lupa bawa payung. Soalnya mau hujan. Sudah ya, aku masuk dulu.”
Sebelum aku membuka mulut, Risma sudah masuk ke rumahnya. Aku bertambah heran. Bagaimana dia tahu kalau aku akan les piano? Berbagai pertanyaan memenuhi benakku.
Keesokan paginya kuceritakan kejadian aneh itu pada Cindi dan Lili.
“Wah, canggih juga si Risma. Mungkin dia peramal, hehehe…” komentar Lili sambil terkekeh.
“Siapa yang peramal?” sambar Risma yang baru datang.
“Ya, kamu! Dari maka kamu tahu kalau kemarin aku mau beli Bobo? Dari mana kamu tahu kalau aku akan les piano?” tanyaku bertubi-tubi.
“Oh, itu. Begini ceritanya. Sebenarnya, Fifi sahabatmu itu, adalah sepupuku. Pamanku, ayah Fifi, bulan lalu harus pindah tugas ke Pontianak. Kebetulan papaku bertugas ke Jakarta. Karena tidak ada yang tinggal di rumah mereka, maka kami sekeluarga yang tinggal di rumah Fifi. Di suratnya padaku, Fifi banyak cerita tentang kamu, Tia,” Risma menjelaskan.
“Tapi, kamu kok juga tahu, kalau kemarin sore akan ada hujan?” tanya Lili.
“Kalau itu sih lain lagi. Malam sebelumnya aku menonton siaran berita. Katanya akan turun hujan,” Risma tertawa. Aku pun ikut tertawa geli.
“Oh, jadi itu sebabnya Risma tahu semuanya,” batinku.
Diambil dari Majalah
Spread The Word
6 Responses to "Siapa Risma Sebenarnya?" 
|
said this on 01 Jan 2012 11:07:04 PM EDT
You mean I don't have to pay for expert adcvie like this anymore?!
|
|
said this on 29 Jan 2012 10:00:14 PM EDT
huhu…memang, tapi hutang tetap hutang…cuma sekarang takda la taksud sangat dengan advertlets…huhu..
home insurance quotes
|
|
said this on 18 Mar 2012 12:26:00 PM EDT
corkcvn http://paydayloansinc.co.uk/ payday loans UK huGmIP Cash Advance >:-[
|

Author)