Deprecated: Function eregi_replace() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/admin/includes/classes/class.helper.php on line 830

Deprecated: Function eregi_replace() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/admin/includes/classes/class.helper.php on line 830

Deprecated: Function eregi_replace() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/admin/includes/classes/class.helper.php on line 830

Deprecated: Function eregi_replace() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/admin/includes/classes/class.helper.php on line 830

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/includes/classes/class.template.php on line 169

Deprecated: Function eregi() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/includes/classes/class.template.php on line 169

Deprecated: Function ereg_replace() is deprecated in /home/aginza/public_html/cerpenweb/includes/classes/class.template.php on line 324
IndoCerpen Sites - http://cerpen.web.id
Cerpen Rumah
http://cerpen.web.id/articles/17/1/Cerpen-Rumah/Page1.html
ginanjar rahardi
iam the dark angel
 
By ginanjar rahardi
Published on 01/30/2008
 
Arif bingung. Tatapannya kosong. Rumah yang disewa bersama teman­temannya akan diambil oleh tuan  rumahnya.  "Saya harap dalam tiga hari ke depan, rumah ini sudah kosong."  "Lho, bukankah akadnya masih berlaku setahun lagi, Baba? kenapa mendadak begini?"  "Iya,  tapi  anak  saya  yang  di  Saudi  mau  pulang  bersama  istri  dan  anaknya.  Masak  mereka  tinggal  di  jalanan? Saya harap kamu bisa mengerti. Malisy!"

Cerpen Rumah
Arif bingung. Tatapannya kosong. Rumah yang disewa bersama teman­temannya akan diambil oleh tuan  rumahnya.  "Saya harap dalam tiga hari ke depan, rumah ini sudah kosong."  "Lho, bukankah akadnya masih berlaku setahun lagi, Baba? kenapa mendadak begini?"  "Iya,  tapi  anak  saya  yang  di  Saudi  mau  pulang  bersama  istri  dan  anaknya.  Masak  mereka  tinggal  di  jalanan? Saya harap kamu bisa mengerti. Malisy!"  Melihat  ekspresi  Baba  waktu  itu,  Arif  merasa  jengkel.  Kenapa  harus  semendadak  ini?  Kalau  memang  benar anaknya mau pulang, kenapa tidak mengabari sebulan yang lalu? Kenapa tiba­tiba akad yang masih  berlaku  setahun lagi itu tidak mempunyai arti apa­apa?  Sebenarnya  Arif  ingin  protes.  Tapi,  mendengar  kalimat  Baba,  Arif  merasa  tidak  bisa  berkutik.  Ia  tak  berdaya. Ia terpaksa harus bersabar. Ia hanya bisa menerima, bahwa ia harus cepat pergi dari rumah itu.  Mencari rumah baru. Baginya, bertengkar mulut dengan orang Mesir hanya buang­buang waktu saja.  *** Sore harinya, Arif pergi ke sekretariat almamaternya yang berada di Bawwabah tiga. Ia berjalan dengan  langkah  kosong.  Pikirannya  tak  tentu.  Bayang­bayang  akan  sebuah  perpisahan,  membuatnya  merasa  perlu mempercepat gerak kaki panjangnya itu. Di setiap derap langkahnya, ia yakin bahwa ia akan segera  mendapatkan  rumah  baru.  Karena  tadi  siang,  kakak  seniornya  mengabarkan  ada  rumah  yang  akan  disewakan.  "Assalamualaikum," Arif mengucap salam sambil mengetuk pintu.  "Waalaikum salam, eh, kamu Rif. Gimana kabarnya? Katanya kamu diusir ya?" tanya seseorang, setelah  mengetahui bahwa yang datang adalah Arif.  Sebuah  permulaan  percakapan  yang  kering.  Arif  enggan  untuk  menjawab.  Namun,  karena  ia  merasa  butuh, akhirnya ia terpaksa menjawab.  "Sudah tahu nanya. Iya, betul. Kak Amien ke mana, Rud?" Arif balik bertanya.  "O, beliau sedang keluar. Katanya pergi ke Atabah, cari karpet. Ditunggu saja, paling sebentar lagi datang,"  jelas lelaki pendek yang ternyata bernama Rudi itu.  Arif tidak berkata lagi. Lelaki tinggi berambut sedikit bergelombang itu, kemudian menyibukkan diri dengan  melihat­lihat ratusan kitab yang terpajang rapi di rak buku. Ia merasa tertarik dengan sebuah kitab yang  ada di sana. Kemudian tangannya yang yang tipis kering mengambil kitab itu dan mulai serius membaca.  Belum satu halaman penuh ia tuntaskan, Rudi datang.  "Rif, kata Kak Amien kamu disuruh ke Bawwabah dua. Di sekretariat Gamajatim. Beliau menunggu di sana.  Ini, beliau barusan SMS."

Setelah  mengucapkan  terima  kasih,  Arif  langsung  bergegas  pergi.  Dan  segera  melejit  ke  sekretariat  Gamajatim.  *** Arif melangkah cepat. Menyusuri jalan Bawwabah tiga. Melalui gang­gang yang kotor. Penuh debu. Ketika  ia  sampai  di  depan  gerbang  Bawwabah  dua,  jantungnya  berdegup  kencang.  Tubuhnya  yang  kurus  itu  sedikit goyah. Ia melihat segerombolan anjing sedang mengais­ngais sampah. Ia belum bisa membiasakan  diri untuk bersikap biasa terhadap anjing. Karena waktu di Indonesia, yang ia lihat hanya anjing galak milik  tetangganya.  Ia  trauma.  Namun,  dengan  mengumpulkan  sedikit  keberanian,  ia  meneruskan  langkahnya.  Setelah  melewati  segerombolan  anjing  itu,  matanya  bersinar.  Ia  melihat  orang  yang  dicarinya  telah  menunggu di depan sekretariat Gamajatim. Arif pun langsung mengucap salam.  “Assalamualaikum”  “Waalaikum salam”  “Sudah lama, Kak?”  “Nggak  juga.  Langsung  aja  yuk.  Itu  rumahnya.  Tuan  rumahnya  sudah  menunggu,”  jelas  Amien  sambil  menunjuk ke arah sebuah Imaroh.  Arif  hanya  menganggukkan kepala  tanda  setuju.  Kedua­duanya  kemudian  berjalan  menuju  Imaroh  yang  ditunjuk oleh Amien tadi. Tidak jauh, hanya beberapa puluh meter saja dari tempat mereka berdiri. Di sana  telah  menunggu  seorang  Mesir  berambut  tipis,  berjanggut,  dan  tidak  berkumis.  Seluruh  rambutnya,  alis  serta  janggutnya  telah  memutih.  Wajahnya  berkerut  dan  bergelombang.  Walaupun  sudah  cukup  renta,  orang tua itu cukup rapi. Rupanya ia tidak mau kalah dengan pemuda­pemuda di kota ini. berdandan necis.  Dan mereka pun terlibat dalam sebuah percakapan yang cukup serius dalam bahasa arab Mesir.  “Tidak, rumah ini tidak akan saya sewakan kalau tidak sembilan ratus pound,” jelas orang berjanggut putih  itu dengan bahasa Amiyahnya yang fasih.  Arif  bingung.  Setelah  berbasa­basi  dan  sedikit  menjelaskan  kepada  Baba,  bahwa  ia  tidak  mungkin  menyewa dengan harga sewa yang sangat mahal itu, Arif segera pamit.  “Terima kasih, ya Baba.”  “Sama­sama”  Arif tahu, harga sewa rumah rata­rata hanya berkisar 500 sampai 600 pound saja atau sekitar US $100.  Terang saja ia tidak mau menyewa rumah itu. Apalagi ia sendiri bukanlah orang yang berharta. Ia hanya  sanggup menyisihkan 100 sampai 130 pound saja untuk uang rumah. Karena selain uang rumah, ia juga  harus memikirkan untuk keperluan makan, kitab, dan keperluan tidak terduga lainnya. Sedangkan ia hanya  dikirim 500 ribu rupiah saja per­bulan oleh orang tuanya yang seorang petani.  Sebenarnya, bisa saja ia tinggal di sekretariat almamaternya. Namun, ia sudah terbiasa dengan karakter  teman­teman serumahnya. Ia merasa nyaman dengan mereka. Ia merasa sayang untuk berpisah dengan  keempat  temannya  itu.  Baginya,  beradaptasi  dengan  teman  baru  dalam  satu  rumah  tidaklah  semudah  dengan beradaptasi dengan pacar baru. Dengan pacar, mungkin hanya bisa bertemu beberapa kali saja  dalam  seminggu,  kalau  tidak  cocok,  bisa  berpindah ke  lain  pacar.  Sedangkan  teman serumah,  tiap  hari  bertemu, dan tidak bisa seenaknya berpindah­pindah rumah. Karena selain menguras tenaga dan pikiran,  pindah rumah itu juga membutuhkan banyak biaya. Ongkos mengangkut barang, uang bulanan baru, uang  jaminan  dan  segala  tetek  bengeknya  merupakan  beban  yang  amat  berat  baginya.  Sedang  ia  sendiri  hanyalah  seorang  mahasiswa  yang  tidak  berpendapatan.  Ia  masih  bergantung  kepada  orang  tuanya.

Belum  lagi  kalau nantinya  masih belum  cocok.  Alasan  itulah  yang  mendorongnya kuat  untuk  tetap  ingin  tinggal serumah lagi bersama teman­temanya yang sekarang.  *** Sesampainya di rumah, Arif langsung duduk lesu di ruang depan. Ia malas masuk kamar. Tidak ada yang  bisa diceritakan, kecuali kegagalannya mencari rumah baru. Ketika sedang asyik melamun, satu persatu  teman­temannya menghampirinya. Kemudian mereka mengambil posisi masing­masing. Maka lengkaplah  anggota rumah itu. Ada Heru yang suka bikin cerpen, ada Antoni yang suka berpetualang, ada  Roni yang  suka basket, ada Irfan yang pendiam, dan Arif sendiri.  “Gimana nih pengembaraannya? Sudah dapat belum, rumahnya?”  tanya Antoni, menodong.  “Iya nih, cerita donk!” Heru angkat suara.  Arif hanya diam. Tidak ada kata. Pikirannya menerawang jauh. Betapa kecewanya teman­temannya kalau  sampai  ia  ceritakan  kegagalannya  mencari  rumah.  Dengan  sikap  Arif  yang  demikian,  membuat  Antoni  mengerti bahwa Arif memang tidak mendapatkan rumah. Dan ia pun angkat bicara.  “Ya  sudah,  kalau  begitu  cepetan  kita  shalat  maghrib.  Setelah  itu  kita  pergi  melihat  rumah  di  Zahro.  Gimana?”  Mendengar itu, Arif hanya tersenyum lemas. Tidak yakin. Tapi karena Antoni memaksa, akhirnya ia pun  percaya dan segera bersiap­siap melaksanakan shalat maghrib berjamaah di masjid yang berada tepat di  samping rumahnya.  Setelah  melaksanakan  shalat  berjamaah,  mereka  berlima  pun  meluncur  ke  Zahro.  Antoni  adalah  satu­  satunya orang yang tahu tempatnya, oleh karena itu ia ditugasi sebagai penunjuk jalan. Setelah turun dari  tramko,  Antoni  berjalan  di  urutan  paling  depan.  Yang  lain  mengikuti.  Mereka  berlima  menyusuri  jalanan  Zahro  yang  bersih  dan  asri.  Heru  hanya  bisa  berdecak  kagum  melihat  keindahan  lingkungan  Zahro.  Sedangkan  Arif  mulai  gelisah,  ia  mulai  memikirkan  hal­hal  yang  ia  tebak­tebak  sendiri.  Untuk  menghilangkan kegelisahannya, ia berkomentar.  “Wah, kayanya di daerah sini mahal. Daerahnya bersih, bangunannya bagus­bagus.”  “Nggak kok. Tuan rumahnya nawarin 450 pound per bulan,” Antoni langsung menyela.  “Kamu sudah lihat rumahnya?” Arif mengejar.  “Belum. Soalnya tadi pagi tuan rumahnya tidak membawa kuncinya.”  Mata Antoni bersinar­sinar ketika sampai di ujung gang. Dilihatnya pria botak berjaket kulit telah berada di  depan imaroh yang ingin ditunjukkan kepada teman­temannya itu. Ia yakin bahwa orang itulah yang tadi  pagi ditemuinya. Dan ia pun mempercepat langkahnya.  “Assalamualaikum,” Antoni mengucap salam.  “Waalaikum salam,” pria itu membalas salam.  Pria  itu  mempersilahkan  mereka  melihat­lihat  isi  rumah.  Betapa  kagetnya  Antoni  dan  teman­temannya.  Keadaan rumah  itu  sangat  memprihatinkan.  Di ruang  tamunya  ia  melihat  ada  beberapa  kursi  yang  tidak  tertata rapi. Pengap. Tidak ada meja dan tidak ada karpet. Dapurnya kotor. Banyak tumpahan minyak di  lantai dan temboknya, banyak sampah berserakan. Kamar mandinya pun tidak jauh berbeda, sama kotor  dan  berantakannya.  Banyak  bungkus  sampo  dan  sisa  sabun  berserakan  di  lantainya.  Temboknya  kotor

tidak  terawat.  Tapi,  di  bagian  kamarnya  masih  cukup  bersih.  Dua  ruangan  itu  adalah  bagian  terbersih  dibandingkan  dengan  ruangan  lainnya.  Mereka  berlima  terheran­heran,  ternyata  luar  tidak  menggambarkan  dalamnya.  Menurut  pria  itu,  sebelumnya  rumah  ini  disewa  oleh  mahasiswa  Mesir.  Namun, karena kuliah mereka sudah selesai, rumah ini tidak ada lagi yang menempati.  Awalnya,  Arif  dan  teman­temannya  enggan  untuk  menyewa  rumah  itu.  Posisinya  yang  berada  di  lantai  lima, membuatnya harus berpikir dua kali untuk menyewa rumah itu. Karena Imaroh itu tidak mempunyai  lift. Namun, karena sewa rumah yang berada di bawah standar, membuat ia dan teman­temannya merasa  tertarik untuk tinggal di rumah itu.  "Ah, sepertinya kita bisa, Rif, tinggal di sini," ujar Heru, berkomentar.  "Iya, tempatnya cukup luas untuk kita berlima. Kalau masalah kebersihan, kan kita bisa kerja bakti," Antoni  menambahi.  Arif  hanya  diam.  Sedang  yang  lain  asyik  melihat­lihat  dan  mencoba­coba  menyalakan  kompor  dan  kran.Takut  tidak  bisa  digunakan.  Setelah  bermusyawarah,  akhirnya  mereka  berlima  sepakat  untuk  menyewa rumah itu. Dan tepat di hari yang ketiga sejak rumah yang mereka tempati itu diminta oleh tuan  rumahnya, mereka melakukan perpindahan.  *** Waktu  berjalan  begitu  cepat.  Tak  terasa,  ternyata  sudah  empat  bulan  mereka  menempati  rumah  itu.  Semuanya  sudah  bersih.  Tuan  rumah  yang  mengontrol  hanya  beberapa  kali  itu  merasa  puas  dengan  mereka berlima. Rumah itu telah berhasil disulap menjadi tempat tinggal yang nyaman. Temboknya dicat  dengan  warna  putih  bersih.  Lantainya  ditutupi  karpet  biru.  Di  dapur,  tidak  ada  lagi  sampah  berserakan.  Tidak ada lagi tumpahan minyak. Begitu juga di kamar mandi, semuanya telah dibersihkan. Arif dan teman­  temannya merasa senang tinggal di rumah itu. Ia sudah bisa menikmati hasil kerja mereka.  Menginjak bulan yang kelima, tuan rumahnya mulai bawel. Tiba­tiba saja tuan rumahnya ingin menaikkan  uang sewa. Katanya, ini sudah keputusan dari pusat. Namun, Arif dan teman­temannya merasa keberatan.  Mereka  meminta  untuk  dinaikkan  tahun  depan  saja.  Mengikuti  apa  yang  telah  disepakati  waktu  akad  beberapa bulan yang lalu. Tapi tuan rumah tetap memaksa untuk menaikkan uang sewa.  “Kalau tidak mampu, ya sudah. Kalian tinggalkan saja rumah ini!”  Arif melawan. Ia menjelaskan bahwa dirinya dan teman­temannya adalah mahasiswa. Ia juga menjelaskan  bagaimana  ia  berusaha  membersihkan  dan  memperbaiki  rumah  itu.  Tapi  ternyata  penjelasan  itu  tidak  cukup berarti. Tuan rumah bersikeras untuk menaikkan uang sewa. Arif kalah.  Merasa tidak berdaya, Arif melapor kepada Amien. Dengan modal surat akad rumah dan bahasa amiyah  yang  sangat  baik,  Amien  berhasil  membuat  si  tuan  rumah  tidak  berkutik.  Dan  rumah  itu  bisa  ditempati  tanpa dinaikkan uang sewanya selama setahun. Arif dan teman­temannya merasa senang.  Hingga suatu malam pada bulan yang sama. Tuan rumahnya datang bersama dengan seorang pemuda.  Kebetulan hanya Arif yang sedang berada di rumah. Dan Ia pun mempersilahkan masuk tamunya itu.  “Saya mohon maaf, Dik,” tuan rumahnya memulai pembicaraan.  “Ada apa, Baba?” Arif menyambut dengan hormat.

“Ini anak saya, dia baru pulang dari Saudi bersama keluarganya. Saya tidak bisa membiarkannya tinggal di  jalanan. Kamu mengerti kan maksud saya?” Panjang lebar Pria botak itu menjelaskan.  Arif  tidak  bisa  berkata­kata.  Ia  diam  seribu  bahasa.  Ia  juga  masih  ragu.  Benarkah  itu  adalah  anaknya?  Benarkah baru pulang dari Saudi? Ia mengingat­ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kalimat itu mirip  dengan kalimat yang diucapkan oleh tuan rumah sebelumnya. Dan ia pun hanya bisa pasrah menunggu  nasib.  Keterangan:  Baba : panggilan untuk tuan rumah di Mesir  Malisy : Bahasa Mesir yang berarti maaf. Dengan kata ini, semarah apa pun orang mesir akan memaafkan  Bawwabah : nama sebuah daerah di kota Nasr, Kairo, Mesir.  Gamajatim : Himpunan mahasiswa yang berasal dari Jawa Timur  Imaroh : Gedung bertingkat yang dijadikan tempat tinggal oleh penduduk Mesir (seperti rumah susun)  Akhi : Bahasa Arab Fusha yang berarti Saudaraku.  Atabah : sebuah pasar rakyat yang murah meriah.  Tramko : sebutan angkot di Mesir, (entah ejaannya benar atau tidak)