Marsia tak pernah merasakan malammalam yang dipenuhi dengan kebahagiaan dengan suaminya. Entah kenapa, semenjak anak pertamanya lahir, kecintaan pada suaminya sedikit demi sedikit menghilang. Menipis bagaikan awan tersisih oleh angin malam yang kadangkadang datang bersama hujan. Hujan yang tak selamanya menumbuhkan tumbuhan. Menyuburkan tanaman. Menghidupkan yang mati sebagaimana fungsi yang telah diberikan.

“Malam ini nggak usah tidur di kamar,” kata Marsia dengan muka yang cemberut. Rafi’I memandang istrinya dengan tak marah. Dia sedang tak ingin bertengkar malam ini, mungkin. Biasanya, seperti malammalam yang telah berlalu, saat Marsia bersikap seperti itu, Rafi’I akan bersikap frontal. Marah dengan sikap Marsia yang tak memperlakukannya sebagaimana laiknya seorang suami.

Sebelum meninggalkan kamarnya, Rafi’I menoleh melihat istrinya yang sedang manyun. Tak mengacuhkannya. “Benarkah dia sedang tak merindukanku.” Rafi’I hendak melangkah keluar. Tapi, harus urung. Sang istri yang telah lama dirindukannya mengeluarkan suara, “kalau ingin tidur di kamar ini nggak apaapa. Tapi, syaratnya nggak boleh ganggu aku,” kata Marsia dibarengi tubuhnya yang rebahan membelakangi sang suami.

Rafi’I tak jadi keluar. Dia mematung di pinggir ranjang membayangkan kehangatan tubuh istrinya yang sudah lama tak ia peluk. Dia mencoba duduk. Ada keinginan kuat untuk menyentuh istrinya. Tapi, dia ragu. Dia khawatir istrinya akan marah dan teriakteriak seperti biasanya kalau lagi tak mau diganggu.

Malam terus merangkak menemani Rafi’I yang sedang termenung memikirkan nasibnya yang sedang dicuekin sang istri tercinta. Tanpa disadari, tangan kanannya bergerak mendekati bahu Marsia. Dia membiarkan tangannya yang tak bisa lagi ditahan. Tangannya telah mendarat di bahu istri. Hanya menyentuh. Tak membelai. Sang istri tak ada respon. Tak bergerak. Tangannya pun mulai membelai. Istri tetap tak bergeming. “Kayaknya istriku memberi izin malam ini,” ajak nafsunya yang mulai berkobar. Tangannya terus menjelajah, membelai leher putih Marsia. Nafsu kian menutupi ketakutan Rafi’i. Tangannya menaiki tanjakan dada yang membukit. Marsia mendesah. Nafas Rafi’I makin memburu. Dan akhirnya, malam itu terasa sangat indah oleh Rai’i. Keindahan malam yang sangat jarang ia rasakan. Malam penuh gairah yang sudah lama tak dirasakan oleh Rafi’i.

Pagi dengan penuh kesegaran menyeruak perlahan membelah Shubuh yang kelabu. Kesegaran yang bisa membersihkan jwajiwa yang berkabut. Jiwa yang sedang sakit mengharap belai tangan Tuhan yang penuh dengan kesabaran, yang terus diburu oleh kesumpekan hidup yang berdesakan masuk tanpa bisa dihentikan. Fisik yang sakit, letih. Ruasruas tubuh yang membeku, tak bergerak. Aliran darah yang tersumbat. Tak mengalir deras membasahi setiap organ danau dalam tubuh. Dada yang sesak oleh kebencian. Otakotak yang berjibun dipenuhi masalah perlahan mencair, fresh. Menghilang pergi dengan gerak lamban menjemukan bagai arakan awan tebal yang digiring oleh sang angin yang sedang tak bergairah.

Marsia menguap ditutupi lentik jarinya. Dia memperhatikan tubuhnya yang berantakan. Di sampingnya, baju yang semalam dia kenakan, kini tergeletak manis di sampingnya. Tak jauh dari bajunya, celana dalamnya bertengger acuh menawarkan gairah pada adam. Di sebelah kirinya, Rafi’I masih mendengkur santai. Kelelahan. “Ternyata, semalam saya bermain mesra dengan suami saya sendiri. Bukan dengan cowok itu. Tapi, bukankah semalam dia datang membawa segenggam cinta? Ah, ternyata itu hanya dalam mimpi, sebagaimana malammalam biasanya.”
Marsia bergegas ke kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya dengan guyuran air yang terasa pegalpegal. Ototototnya seperti digulung. Bengkok. Dan perlu diluruskan. Di ruangan tamu, Marsia melihat keponakannya sedang asyik menikmati segelas kopi dan kepulan asap rokok dari mulutnya memenuhi ruangan.

“Buat sendiri kopinya?” tanya Marsia. Dan Rudi hanya mengangguk sambil terus menikmati setiap hisapan rokoknya. Nikmat sekali. Memulai kehidupan di pagi hari dengan kopi dan rokok. Mungkin itu yang sedang dirasakan oleh Rudi, sehingga ia seakan enggan untuk mengisi pagi ini dengan obrolan bersama bibinya. Marsia seakan memahami, dia pun berlalu ke kamarnya.
Rudi baru kemarin datang bertandang. Biasanya, dia sampai satu Minggu bermain di rumah bibinya mengisi hari libur sekolah. Atau kalau sedang bosen di rumahnya. Rudi lebih senang mendengarkan curhat Marsia. Cerita tentang kehidupan yang tak bahagia. Malammalam yang seringkali diisi dengan kemarahan suami istri itu.

“Bagi kopinya, Rud,” ucap Rafi’I yang baru keluar dari kamarnya tanpa membasuh muka atau mandi dulu. Dia langsung menyeruput kopi dan menyalakan sebatang rokok. Mereka berdua pun asyik dalam kenikmatan rokok dalam setiap hisapannya. Dalam setiap asap yang disemburkan pelan. Pelan sekali asap yang disemburkan Rudi, seakan ia tak merelakannya untuk keluar mengotori udara. Rafi’I melirik dan tersenyum yang tertangkap basah oleh Rudi. Mereka berdua beradu senyum.

“Kamu sangat menikmatinya, Rud?” yang ditanya hanya mengangguk. Dan mengakhiri hisapannya yang telah mencapai puncak.

“Paman nggak kerja hari ini?”

“Iya.”

“Biasanya jam setengah delapan udah siap berangkat .”

“Emang sekarang jam berapa, Rud?”

“Udah setengah delapan.”

“Owh, cepat sekali jam berputar. Tapi, tanggung. Ngabisin rokok dulu.”

***
Detik jam terus berputar. Menit melangkah gontai. Dan jam tertatihtatih menggilas pagi. Siang menyeruak. Dan sore pun bertandang menabur jingga pada horison. Pelan tapi pasti, sang malam mulai mengintip. Sedikit malumalu. Dan jubah gelapnya menutupi hari dengan sempurna. Tak ada celah untuk tempat mengintip.

“Nggak usah tidur di kamar,” ucap Marsia.

“Emang kenapa, Mar?” Rafi’I hanya bisa bertanya.

“Aku ingin muntah kalau tidur dengan kamu. Tak ada yang menarik dari kamu. Semuanya menjemukan.” Muka Rafi’I memerah.

“Jadi, kamu sudah bosan dengan saya. Kalau begitu, apa gunanya saya jadi suami kamu?” Rafi’I tak bisa lagi menahan kemarahannya. Bentakannya sangat nyaring terdengar oleh Rudi yang masih di ruang tengah nonton acara TV.

“Kamu harus bisa memahami saya, Bang. Itu bukan kemauanku. Cintaku hilang bukan atas pintaku. Itu garagara mimpi yang selalu datang membelaiku. Dia telah menggantikanmu.”

“Dia siapa?”

“Lakilaki itu selalu datang dalam mimpi saya.”

“Owh,” Rafi’I mengeluh. Duduk di pinggir ranjang menundukkan mukanya. Suasana hening. Keduanya samasama tak bicara.

“Kamu udah bicara sama siapa aja mengenai masalahmu ini?” tanya Rafi’I memecah keheningan malam.
“Hanya pada Rudi.”

“Gimana tanggapannya.”

“Dia menanyakan pada temannya yang ngerti kayak beginian.”
“Dukun?”

“Bukan. Katanya teman sepondok, tapi udah senior. Udah lama berhenti dari pondok.”

“Terus?”

“Yang sering datang dalam mimpiku itu adalah jin yang senang sama aku. Jin itu bisa diusir agar tidak ngeganggu aku lagi. Tapi, resikonya besar sekali, Bang. Bisabisa merenggut nyawa. Apalagi kalau jinnya itu udah sakti atau mempunyai guru yang siap membelanya.”

“Guru jin juga maksudnya?”

“Iya. Pernah kejadian sama kayak saya. Ternyata jin itu salah satu muridnya nyi Blorong. Dan nyi Blorong itu tidak terima kalau kesenangan muridnya diganggu. Untung saja temannya Rudi itu juga punya guruguru sakti yang bisa menghalau nyi Blorong itu.”

“Owh . . . berarti ada harapan besar kamu bisa sembuh dong, Mar?”

“Yaiyalah, Bang.”

“Ha ha ha…” mereka ketawa berbarengan dan berangkulan bahagia untuk menjemput kebahagiaan selanjutnya.

http://mejadunia.blogspot.com/2011/12/cerpen-sedih-banget-mimpi-itu.html