Alya masih terbaring, memeluk boneka kesayangannya. Terbesit difikirannya untuk menengok keluar jendela. Ia berkata: "Seharusnya aku seperti mereka!" Ia menatap anak-anak seusianya pergi bersekolah. Sudah hampir setengah tahun Alya tidak masuk sekolah, saat itu ia masih duduk di Kelas 1 SD. Karna penyakitnya yang tak kunjung sembuh, menghambatnya untuk kembali bersekolah.

Hari ini Alya dan kedua orang tuanya pindah rumah ke kampung, tempat dimana kakek dan neneknya tinggal. Alya memulai suasana hidup yang berbeda di sana, ia mulai bersekolah kembali dan langsung duduk di Kelas 2 SD.
Selang 3 bulan, Alya merasa ada keganjalan di tengah-tengah keluarganya, suara tangisan, teriakan, piring yang berjatuhan. Semua itu sering kali ia dengar, orang tuanya sering sekali bertengkar, hingga ayahnya pergi meninggalkan Alya dan mamahnya.

Pagi ini Alya pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Wajahnya melukiskan berjuta rasa bangga dan gembira. Ia menghampiri mamahnya yang sedang duduk melamun dikamar. "Mah, liat deh! Alya jadi juara kelas. Mamah senengkan?" Ucap Alya. Namun hanya keheningan yang ia dapatkan. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi, ia hanya bisa menangis jika melihat mamahnya terus terusan melamun semenjak kepergian ayahnya. Kasih sayang seorang ayah yang slalu di harapkan, tak pernah ia dapatkan sampai detik ini.

Hari ini penyakit Alya kambuh, ia tak ingin menyusahkan mamahnya, apalagi jika harus melihat mamahnya menangis kembali. Alya berusaha menutupi rasa sakitnya, tapi ternyata Hepatitis A yang dideritanya malah semakin menyiksanya, hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.

Meski matanya belum juga terbuka, tapi Alya masih bisa mendengar dan merasakan orang-orang yang menyentuhnya. "Tubuhnya mulai menghijau, empedunya sudah pecah, hidup Alya hanya tinggal menghitung hari saja, meskipun cuci darah dilakukan, hidupnya tak akan lama" Ucap dokter. Alya mendengar mamahnya menangis dan memeluknya. Tapi ia hanya bisa berdoa: "Ya Allah, kalau memang hidup Alya ga akan lama, tolong izinkan Alya untuk bangun, sebentar.. saja, Alya cuma pengen bilang "mamah jangan nangis karena Alya", Alya cuma pengen mamah senyum, bukan nangis".

Akhirnya Alya bisa membuka kedua matanya, mamahnya senang sekali. Sejak saat itu, Alya menjalankan cuci darahnya 3x setiap minggunya. "Alya harus tetap hidup untuk mamah !" ucap mamahnya setiap kali Alya merasa sakit. Waktu terus bergulir, Alya sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit agar tetap hidup untuk mamahnya. "Mah, Alya capek. Biarin Alya buat tidur panjang ya, tapi tanpa dongengan isak tangis mamah lagi" Ucap Alya dengan nada merintih menahan rasa sakit . "Maafin mamah ya, ia Alya boleh tidur sekarang, mama ikhlas !" Ucap mamahnya. Akhirnya Alya pun tidur untuk selama lamanya. Ia berharap kematiannya menyisakan damai untuk kedua orang tuanya, meski ayahnya tak datang disaat pemakaman dirinya.

http://www.zodiaklopedia.com/2013/03/cerpen-sedih-jangan-tangisi-aku.html