Kumis tebal, kain sarung. Tegar dan penuh semangat. Grapyak dan semedulur. Jadi pegawai karena pinter main bola setingkat kecamatan. Asap rokok selalu membumbung di dekatnya. Kalau sedang bekerja bisa lupa waktu. Membersihkan rumput di sekeliling rumah, membuat atap kamar mandi, membuat kandang ayam, dan lain-lain. Tidak pernah bermalas-malasan. Paling-paling kalau masuk angin dan batuk-batuk. Minta dibuatkan wedang asem merah atau wedang jahe. Meringkuk di amben sambil kerodong sarung. Itulah bapakku.

 “Anakku diterima kuliah! Anakku jadi mahasiswa!” itu yang diteriakkan bapak ketika aku diterima di sebuah perguruan tinggi. Sambil menjinjing koran pengumuman, beliau mengabarkan ke saudara-saudaranya. Beliau sangat bungah karena aku yang bungsu menjadi anak satu-satunya yang kuliah. “Kamu harus jadi sarjana, Di!” kata beliau mantap. Tapi aku tahu dalam hatinya bingung membiayai kuliahku kelak. Gaji pegawai sangat minim waktu itu.

 Tahun 1998 musimnya demo mahasiswa. Bapak mampu membaca gelagatku yang juga termasuk aktivis kecil-kecilan. Beliau mencariku di kampus. Padahal aku sedang ikut demo di Jakarta. Maafkan aku bapak, tidak pamit waktu itu.* Tahun 2002, aku wisuda. Bapak dan ibu mendampingiku. Bapak memakai hem lengan panjang berdasi. Ibu memakai kebaya.
” Adi kalau berangkat kerja suruh jangan pakai jaket, biar baju gurunya kelihatan,” kata bapak pada ibu. Beliau ingin melihatku memakai seragam guru tanpa tertutup jaket. Beliau bangga melihat anaknya sudah menjadi guru.

 Bapak sempat gusar melihat aku belum mempunyai calon istri. Kalau ada teman putri mbakyuku yang main ke rumah, beliau selalu mempromosikan aku. Terima kasih bapak, aku tahu bapak ingin melihatku mempunyai pendamping hidup.

***

Di sisa hidupku. Ibu cuma ingin melihat anak-anakku terhindar dari hidup sengsara. Ibu tidak berharap apa-apa dari kalian. Cukup bagiku bisa makan dengan tempe goreng dan sambal terasi. Teh pahit cukup membuatku bungah. Ibu juga bungah kalau sedang kumpul dengan tiga cucuku: Ria, Dita, dan Raihan. Ria sekarang jauh dengan ibunya di Jambi. Dita dekat denganku,karena rumah ibunya di belakang rumahku. Kalau Raihan di Purbalingga, bareng Adi, bapaknya. Ibu sudah terbiasa merasa sepi ditinggal anak. Ibu tidak akan membeda-bedakan anak-anak dan cucu-cucu ibu.

 Di, kemarin hari Minggu ibu masak gasik. Ibu mengira kamu akan datang,tapi ternyata tidak datang. Di, ibu sekarang tiap malam nonton tivi sendiri. Mbakyumu tidur gasik terus. Di, ibu sebenarnya ingin gendu-gendu rasa sama kamu. Biar uneg-uneg ibu hilang semua. Nanti ibu buatkan segelas kopi kental untukmu. Raihan sudah bisa jalan ya? Ibu kangen Raihan. Pasti sudah tambah gemuk dan lucu ya?

Itu yang mungkin ada dalam fikiran ibuku saat ini. Bagiku ibu adalah segalanya. Tempat berbagi cerita. Beliau begitu sabar dan tegar menghadapi kerasnya hidup. Beliau mampu melewati likuan hidup dengan baik. Manis, asam, pahit kehidupan sudah dirasakannya. Tunggu aku dan Raihan di rumah ya bu? Siapkan saja kopi clebek klangenanku dan tempe goreng kesukaanku buat dijambal. Nanti kita ngobrol apa saja yang ibu suka. Aku akan menjadi pendengar yang baik.

Aku bergegas ingin segera menuju ke suatu tempat. Aku berpakaian seadanya: kaos oblong, celana panjang hitam, dan memakai sandal jepit. Hari sudah sore. Setengah jam lagi adzan Maghrib. Ku percepat langkahku, berharap segera sampai di tempat yang kutuju: menemui bapakku.

 Ada banyak hal yang menyebabkan aku rindu ingin menemui bapak. Dari aku kecil sampai dewasa, beliau sangat perhatian padaku. Wajahnya kelihatan galak, tapi sebenarnya baik hati. Belum pernah sekalipun aku dipukulnya. Beliau selalu memberiku semangat pantang mundur dalam hidup. ” Aku ingin melihatmu jadi orang sukses, menikah, dan punya anak. Semoga aku diberi umur panjang agar bisa menimang anakmu,” kata beliau suatu ketika.

 Beliau tidak pernah mengeluh dalam hidup. Meski ada keterbatasan ekonomi keluarga, tapi senyumnya selalu menyiratkan harapan dan semangat yang tinggi. Beliau mampu menyekolahkan anak-anaknya, meski hanya setingkat SMA, kecuali aku yang sampai sarjana.
 Kadang ada sedikit konflik diantara kami. Kami anggap itu sebagai bumbu kehidupan. Aku dan bapak kadang berbeda cara pandang saja, karena jarak usiaku dan bapak cukup jauh.

Ajaran bapak tentang semangat dan kerja keras telah membawaku dalam keadaan sekarang: menikah,punya anak, dan bekerja. Alhamdulilah keinginan beliau telah kuwujudkan.

 Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, akhirnya aku sampai di sebuah tempat yang aku tuju. Kuucapkan salam. Aku menaiki gerbang masuk berupa jalan bertangga. Aku melewati gundukan-gundukan tanah yang di ujung-ujungnya dibatasi batu, berjajar dengan rapi. Aku mendekati tempat dimana kini bapak berada. Kutaburkan bunga-bunga. Kupanjatkan doa-doa [] Purbalingga, 2 Mei 2011. Mengenang almarhum Bapak Tercinta.

by Agus Pribadi
http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2011/05/29/kisah-sebuah-keluarga-cerpen-368524.html